Merasakan suatu ganjalan yang pernah aku rasakan sebelumnya (1 tahun lalu tepatnya) tapi yang aku hadapi sekarang tidak memungkinkan aku melakukan tindakan tegas dan saya yakin pasti ada yang disembunyikan. aku akan diam sampai waktu yang menjawabnya. Aku ingat sekali ganjalan itu disaat satu tahun yang lalu yang bikin IP kuliah berantakan.......
Ya semoga ini bukan sesuatu seperti itu. Aaammmiinn tetapi aku berharap waktu segera menjawab.
Kamis, 29 November 2012
Minggu, 25 November 2012
1
Kalau ingin mengetahui kelemahan dan kelebihan seseorang janganlah tanyakan kepada orangnya langsung tetapi tanyakan kepada orang - orang yang ada dan mengenal orang tersebut disekitarnya (RZ,2012)
Kamis, 22 November 2012
Minggu, 18 November 2012
Renungan lagi
ketika galau, lebih
baik dipendam sendiri & diadukan kepada Allah, Khawatir bila diadukan pada
manusia akan menambah beban mereka
Semua manusia pasti punya masalah yg sama berat, Hanya sebagian mengadukannya pada manusia & sebagian lagi mengadukannya pada Allah
Yang layak digalaukan bukan sesuatu yg akan pudar seiring waktu, Lebih pantas menggalau
akan hari yg lebih panjang, masa yg lebih lama.
Sebagaimana seorang tukang parkir tak menggalaukan mobil yang datang dan pergi, Karena dia sadar itu bukan miliknya
Begitupun manusia, merasa kehilangan padahal ia tidak pernah memiliki apapun, Kecuali yg dipinjamkan Allah kepadanya Kepunyaan Allah-lah seluruh isi langit & bumi. Apa yang kita miliki?
Walaupun begitu, memang manusia diciptakan dalam keadaan rapuh, hanya 1 cara untuk menjadi kuat, Mendekatlah diri pada Allah
Semua manusia pasti punya masalah yg sama berat, Hanya sebagian mengadukannya pada manusia & sebagian lagi mengadukannya pada Allah
Yang layak digalaukan bukan sesuatu yg akan pudar seiring waktu, Lebih pantas menggalau
akan hari yg lebih panjang, masa yg lebih lama.
Sebagaimana seorang tukang parkir tak menggalaukan mobil yang datang dan pergi, Karena dia sadar itu bukan miliknya
Begitupun manusia, merasa kehilangan padahal ia tidak pernah memiliki apapun, Kecuali yg dipinjamkan Allah kepadanya Kepunyaan Allah-lah seluruh isi langit & bumi. Apa yang kita miliki?
Walaupun begitu, memang manusia diciptakan dalam keadaan rapuh, hanya 1 cara untuk menjadi kuat, Mendekatlah diri pada Allah
Intermezzo
Nama Kontak Istri di HP Suami (hasil survey majalah PRIA yg
belum dipulihkan).
① Baru menikah: MY LOVELY WIFE ♥
② 1 thn menikah: MY WIFE)
③ 5 thn menikah: HOME
④ 10 thn menikah: KANTOR PUSAT
⑤ 15 thn menikah: PROVOST
⑥ 20 thn menikah: MABES POLRI
⑦ 25 thn menikah: WRONG NUMBER
⑧ 30 thn menikah: WONG EDAN
⑨ 35 thn menikah: MAK LAMPIR
(Lalu para istripun memberikan serangan balasan) Nama Suami di HP Istri (hasil sidak anggota Arisan)
①Baru menikah: MY ONE & ONLY MAN
② 1 thn menikah: MY HUBBY
③ 5 thn menikah: PAPANYA ANAK²
④ 10 thn menikah: HOME SWEET HOME
⑤ 15 thn menikah: MY PERSONAL LOAN
⑥ 20 thn menikah: EMERGENCY NUMBER
⑦ 25 thn menikah: SATPAM RUMAH
⑧ 30 thn menikah: CELENGAN SEMAR
⑨ 35 thn menikah: ARCA HANOMAN
belum dipulihkan).
① Baru menikah: MY LOVELY WIFE ♥
② 1 thn menikah: MY WIFE)
③ 5 thn menikah: HOME
④ 10 thn menikah: KANTOR PUSAT
⑤ 15 thn menikah: PROVOST
⑥ 20 thn menikah: MABES POLRI
⑦ 25 thn menikah: WRONG NUMBER
⑧ 30 thn menikah: WONG EDAN
⑨ 35 thn menikah: MAK LAMPIR
(Lalu para istripun memberikan serangan balasan) Nama Suami di HP Istri (hasil sidak anggota Arisan)
①Baru menikah: MY ONE & ONLY MAN
② 1 thn menikah: MY HUBBY
③ 5 thn menikah: PAPANYA ANAK²
④ 10 thn menikah: HOME SWEET HOME
⑤ 15 thn menikah: MY PERSONAL LOAN
⑥ 20 thn menikah: EMERGENCY NUMBER
⑦ 25 thn menikah: SATPAM RUMAH
⑧ 30 thn menikah: CELENGAN SEMAR
⑨ 35 thn menikah: ARCA HANOMAN
Renungkan
Semua Berawal Dari Seorang Tukang Baso....
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?
"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Mamang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?" "Iya pak, Mamang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Mamang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Mamang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita รข cita penyempurnaan iman ".
"Maksudnya.. ...?", saya melanjutkan bertanya.
"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Mamang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari Mamang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Mamang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Mamang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Mamang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Mamang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Mamang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".
Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".
"Masya Allah..., sebuah jawabannya elegan sekali dari si Mamang "seorang tukang bakso"
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?
"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Mamang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?" "Iya pak, Mamang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Mamang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Mamang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita รข cita penyempurnaan iman ".
"Maksudnya.. ...?", saya melanjutkan bertanya.
"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Mamang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari Mamang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Mamang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Mamang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Mamang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Mamang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Mamang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".
Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".
"Masya Allah..., sebuah jawabannya elegan sekali dari si Mamang "seorang tukang bakso"
Langganan:
Postingan (Atom)